Kamis, 06 November 2014

Gagasan Itu Untuk Kita! #1Semangat

0 komentar
Mungkin banyak di antara kita yang hampir setiap hari mengerutkan dahi melihat pemberitaan tentang negeri ini, ya Indonesia. Mungkin banyak di antara kita yang tidak lagi mengharapkan terwujudnya kesejahteraan masyarakat  yang digadang-gadang pemerintah. Masing-masing orang sibuk mengupayakan caranya sendiri-sendiri untuk mengusahakan kesejahteraan pribadi, siapa peduli melanggar hukum atau tidak. Mungkin banyak diantara kita yang lupa bahwa Indonesia tidak sesempit pulau jawa, wilayahnya terbentang luas hingga Marauke.
Mungkin banyak di antara kita yang lupa, bahwa Indonesia bukan hanya milik segelintir orang-orang yang sibuk debat kusir di tv-tv tanpa solusi, sekedar untuk berpura-pura peduli, tanpa kerja yang berarti. Mungkin banyak diantara kita yang lupa bahwa Indonesia, adalah bangsa dengan lebih dari 250 juta penduduk yang potensial. Ya, karena setiap kita dilahirkan dengan potensi yang luar biasa bukan? Mereka semua berpotensi. Mereka  hanya dibedakan oleh keadaan. Sampai disini, kebutuhan akan sosok pemimpin menjadi suatu hal yang sangat penting. Bukan pemimpin yang mau menjadi pelayan ratusan juta penduduk tersebut, tapi pemimpin yang bisa membangunkan, kemudian menggerakkan.
Jumlah penduduk miskin terus meningkat, menjadi 28,55 juta orang pada september 2013. Jauh berbeda dengan iklan partai incumbent yang menyatakan bahwa angka kemiskinan terus menurun semenjak mereka menjabat. Ya, mungkin memang benar menurun, karena sebagiannya berakhir dengan mati kelaparan. Sektor-sektor strategis seperti pertambangan, tidak lagi dapat diharapkan sebagai komoditas yang dapat membantu penghidupan masyarakat, semenjak 75% dari  sektor ini dikuasai Asing.
Oya, namun  kita masih memiliki investasi anak-anak bangsa yang sedang menempuh pendidikan. Jumlah tenaga guru pun telah mencukupi, yaitu sekitar 2,9 juta jiwa dengan ratio guru dan murid sekitar 1:18. Rasio yang bahkan mengalahkan Jerman dan Korea Selatan. Namun, yang menjadi pertanyaan adalah, apakah guru tersebut telah tersebar merata  di seluruh wilayah Indonesia? Faktanya, sekitar 66% daerah terpencil masih kekurangan tenaga pendidik. Lalu, dimana lagi letak harapan akan investasi-investasi itu?
Semua kondisi ini, sayangnya, justru diperparah dengan aktivitas aktor-aktor yang berlaga dalam panggung pemerintahan.  Sedikitnya 30% atau sekitar Rp 400 miliar APBN dikorupsi setiap tahunnya. Tidak perlu lagi membahas mengenai penegakan hukum di Indonesia. Berdasarkan survei Global Corruption Barometer (GBC) 2013 oleh Transparency International (TI), kepolisian tidak lagi menjadi lembaga yang dipercaya masyarakat untuk menegakkan hukum, kepolisian menempati peringkat teratas lembaga yang dianggap terkorup di Indonesia. Suatu hal yang tidak layak disebut sebagai prestasi. Sedikit gambaran kasar ini mungkin, yang membuat pemuda kini tidak lagi bisa berbangga akan bangsanya. Tidak lagi dengan bangga bisa menyebutkan: Aku Indonesia.
Mungkin mereka lebih berbangga saat mengomentari budaya asing, mengikuti gaya hidupnya, mengkonsumsi produknya, dan sebaliknya: membodoh-bodohi bangsa sendiri. Akhir-akhir ini, mengkritik memang terlihat lebih menggiurkan daripada mengakui, bahwa kita adalah bagian dari bangsa itu, Indonesia.
Mungkin jarang kita sadari bahwa Indonesia memiliki kekayaan lain yang bahkan, potensinya melebihi kekayaan sumber daya alamnya. Ya, Indonesia memiliki total 250 juta penduduk yang potensial untuk diajak “bekerja sama” membangun  bangsa ini. Pembangunan yang dicanangkan pemerintah -secanggih apapun itu- tidak akan berjalan maksimal ketika menjadikan partisipasi masyarakat hanya sebagai alat, bukan tujuan. Saat partisipasi masyarakat dijadikan sebagai tujuan, proses ini akan mengembangkan dan memperkuat        kemampuan/peran masyarakat dalam kegiatan pembangunan. Poinnya: kita membangun bangsa ini bersama-sama!
Bukankah kau rindu semangat itu kawan?  Rindu masa kejayaan itu. Rindu masa-masa dimana mencintai bangsa sendiri, melintasi perbedaan budaya, agama dan bahasa. Rindu berjuang dengan ratusan ribu rakyat lain, mempertahankan harga diri bangsa ini. Ya, rindu itu semakin memuncak ditengah arus budaya asing yang melingkupi setiap sendi kehidupan, ditengah bisingnya cemoohan, dan ditengah lihainya para petinggi yang menggerogoti bangsanya sendiri, memperkaya diri. Bisa kah kamu membayangkan, 250 juta lebih rakyat Indonesia hidup dalam satu semangat yang sama? Ya, karena bangsa ini hancur bukan hanya karena banyaknya orang jahat, tetapi karena banyaknya orang-orang baik yang diam dan mendiamkan.
Gagasan itulah yang dibawa Anies Baswedan, satu-satunya figur dari Indonesia dan Asia Tenggara yang masuk dalam daftar 100 intelektual dunia. Seseorang yang diprediksi akan menjadi satu dari 20 orang penting dalam 20 tahun mendatang menurut Majalah Foresight. Seorang intelektual muda yang termasuk kedalam 500 muslim berpengaruh di dunia versi Royal Islamic Strategic Centre, Yordania. Seorang mantan Ketua Senat UGM, yang memimpin berbagai pemberontakan melawan tirani pada masanya. Seorang ketua komite etik KPK, yang juga menggagas mata kuliah anti-korupsi dalam Universitas yang dipimpinnya.
Seseorang yang menginisiasi ratusan pengajar muda untuk mengisi kekosongan pengajar dipulau-pulau terluar Indonesia. Menginspirasi ribuan orang untuk mau mengajar murid-murid SD selama satu hari dalam kelas inspirasi. Menggerakkan ratusan orang dan institusi untuk mengirimkan buku dan membentuk perpustakaan di daerah-daerah lewat program Indonesia Menyala. Seorang pemimpin, yang telah berhasil memprovokatori 16.500 relawan untuk ikut turun tangan.
Ini dia gagasannya: Indonesia 1945.
1 Semangat mewujudkan ‘Indonesia Kita Semua’, yang tidak hanya untuk kita yang hidup hari ini, tapi terutama untuk anak-anak kita dan anak-anak dari anak-anak kita.
Melaksanakan 9 Pekerjaan: Jaminan akan Indonesia merdeka, Indonesia Beradab, Indonesia Sejahtera, Indonesia Adil dan Makmur, Indonesia Cerdas, Indonesia Sehat, Indonesia Erat, Indonesia Bermartabat, dan Indonesia Gotong Royong. Ya, Indonesia gotong royong karena semua pekerjaan tersebut hanya bisa terwujud jika pemimpin negara bisa menggerakkan seluruh komponen bangsa, untuk bersama-sama mengrjakannya.
9 Pekerjaan tersebut didesain untuk melunasi 4 Janji Kemerdekaan: Aman-Berdaulat, Adil-Makmur, Mandiri, dan Bermartabat.
Dan seluruh gagasan itu akan diimplementasikan dalam 5 Tahun Masa Bakti yang luar biasa: Turun Tangan Bersama-sama. Sebuah gagasan sederhana, namun menggetarkan bagi saya pribadi. Mengapa? Karena kita diajak untuk ikut memiliki bangsa ini. Kita diajak untuk bersama-sama membersihkan “rumah” kita sendiri. Ya, karena gagasan itu untuk KITA!
Seorang Anies Baswedan tidak akan mampu menyelesaikan tumpukan masalah Indonesia seorang diri. Namun, Ia mampu menggerakkan rakyatnya untuk menyelesaikan tumpukan masalah tersebut, bersama-sama. Itulah sejatinya seorang pemimpin.
Kini, bukan saatnya lagi kita menganggap bahwa akan selalu ada orang lain yang datang untuk menyelesaikan masalah-masalah kita. Saatnya kita memiliki masalah, dan mulai turun tangan. – Anis Baswedan

Salam Dari Sabang

1 komentar
Saya memilih ikut mendukung Mas Anies Baswedan karena track record yang jelas dan baik, program-program yang dibuat beliau cerdas, seperti Indonesia Mengajar, selalu menginspirasiku untuk terus berbuat baik. Ada banyak quotenya yang singkat tapi “ngenak” banget di hati. Seperti, “Kita tidak tahu jalan kehidupan kita, lahir boleh di mana saja, tapi mimpi harus di langit!”, sebagai anak yang lahir di sebuah pulau kecil di ujung paling barat ini kena banget.
Salah satu program yang diinisiasi beliau adalah Turun Tangan. Beliau bisa menggerakan lebih dari 24.000 pemuda Indonesia untuk turun tangan tanpa bayaran, luar biasa! Karena penasaran dan tertarik, saya gabung di Turun Tangan Aceh, setelah itu saya gabung di kegiatan Turun Tangan, ternyata saya bertemu dengan pemuda-pemudi baik di Aceh yang ikutan, mulai dari Aceh Besar, Banda Aceh, bahkan sampai ke Singkil, sebagai Pemuda Sabang yang merasa baik (ceilee), rasanya kok tidak enak kalau tidak bergabung dengan orang-orang baik. Bukannya Rasul bersabda, “Perumpamaan teman yang shalih dengan yang buruk itu seperti penjual minyak wangi dan tukang pandai besi. Berteman dengan penjual minyak wangi akan membuatmu harum karena kamu bisa membeli minyak wangi darinya atau sekurang-kurangnya mencium ban wanginya. Sementara berteman dengan pandai besi akan membakar badan dan bajumu atau kamu hanya akan mendapatkan bau tidak sedap“. (HR.Bukhari & Muslim). Dan yang saya lihat selama kegiatan, baik kelas mengajar menulis, kelas public speaking,  pemuda-pemudi yang ngakunya relawan ini memang tidak meminta bayaran sama sekali, benar-benar Rp 0!

Saya Memilih Optimis dengan Turun Tangan langsung ke lapangan, berbuat sesuatu untuk masyarakat, masih banyak PR yang bisa kita kerjakan bersama Itu bukan hal yang bisa kita kerjakan sendiri, butuh banyak orang baik lainnya untuk ikut Turun Tangan. Alhamdulillah, setelah ikutan program Turun Tangan, ternyata banyak teman-teman yang tertarik untuk ikutan Turun Tangan tanpa harus diminta, Aceh sudah mulai berubah lebih baik. Saya yakin Turun Tangan ini bisa jadi titik balik perubahan yang lebih baik untuk Aceh dan juga untuk Indonesia.

Hijrah Saputra Yunus
Relawan Turun Tangan Aceh

Senin, 03 November 2014

Ini Kata Mereka !!!!

0 komentar





Apa Kata Pejuang Muda Ini ?

0 komentar





Para Pengajar Sekolah Masa Depan

0 komentar


Malam ini saya mau menulis tokoh tokoh muda yang luar biasa. Anak muda yang usianya masih muda tapi cintanya pada negeri tercinta ini begitu luar biasa. Sekilas Turun Tangan Aceh semester ini memiliki program sekolah masa depan buat adik adik yang ada di perkampungan pemulung di Kampung Jawa. Programnya fokus kepada pendidikan dan pembangunan karakter, belajarnya setiap minggu pagi pukul 9 sampai dengan 12 siang. Alhamdulillah programnya sudah berjalan lancar dan mengasyikkan. Inilah ulasan singkat tentang para pengajar luar biasa itu yang bersedia meluangkan waktu liburannya bersama adik – adik untuk memenuhi janji kemerdekaan.

dr Durrah Lutfiah Adani

Insya Allah gelar dokter beberapa minggu lagi akan disematkan pada gadis manis penuh talenta ini.. Pengajar yang satu ini adalah adalah mahasiswi Kedokteran Unsyiah yang sudah selesai dan mahasiswi English di kampus UIN Ar Raniry. Kami memanggilnya Kak Durrah. Kak durrah adalah pengajar untuk kelas bahasa Inggris mulai dari kelas 4 SD sampai siswa SMP. Tak banyak orang yang padatnya jadwal mau bergabung menjadi relawan tanpa bayaran ini. Beliau telah membuktikan bahwa di Aceh ini masih banyak pejuang yang tak memikirkan materi sedikitpun. Kakak Durrah sangat dekat sekali dengan adik adik yang diajarinya, pokoknya anak anak senang kalau belajar sama kakak yang satu ini. Cuma bisa berkomentar beliau Luar Biasa

Nurhidayati

Nurhidayanti itulah namanya. Gadis berkerudung manis kelahiran Dewantara Aceh Utara satu ini adalah mahasiswi Jurusan Biologi. Ia begitu menyukai hewan hewan langka yang sudah mulai punah. Memiliki keahlian dalam menggambar serta mudah akrab kepada siapapun. Ia adalah pengajar untuk kelas PAUD. Lebih kurang sudah dua bulan program Aceh mengajar dan sekolah masa depan berjalan terlihat ketulusan dan semangat perubahan dalam wajah gadis satu ini. Ia begitu setia mentransfer kan ilmu yang ia miliki serta nilai nilai kebaikan kepada adik adik disana.

Sarah

Gadis kelahiran lhokseumawe yang satu ini memiliki keahlian di dunia menggambar. Ia adalah salah satu pengajar yang paling semangat memberikan terobosan – terobosan baru. Disamping menjadi pengajar di sekolah masa depan ia juga pengajar di kelas berbagi. Mahasiswi Unsyiah jurusan PKK ini sering menghabiskan waktu untuk mendesain pakaian dll, hujan badai selalu dihadapi untuk bisa bertemu dengan adik adik di kampung pemulung. Ternyata Aceh masih memiliki banyak cut nyak dhien muda yang dalam hatinya menggelora semangat dan rasa cinta buat Aceh. Sarah adalah pengajar kelas paud bersama dengan yanti, mereka lebih terlihat seperti kakak dengan adik adik disana sehingga terlihat begitu akrab.

Riska Syafitri

Gadis langsa kelahiran Maret 1994 ini adalah mahasiswi Unsyiah jurusan bimbingan konseling. Ia adalah pengajar untuk kelas membaca, berhitung, dan menulis buat adik adik kelas 2 dan 3. Luar biasa jarak yang lumayan jauh ia tempuh setiap minggu pagi untuk bertemu dengan generasi masa depan bangsa. Hujan dan badai itu adalah hal biasa buat para pengajar di program ini. Riska memiliki banyak cerita lucu dan menarik saat mengajar. Mudah tersenyum adalah salah satu keunikan kakak pengajar yang satu ini sehingga membuat anak anak betah belajar bersama pengajar manis ini. terkadang beberapa kali diganggu oleh anak anak, tetapi ia hanya tersenyum manis. Pokoknya banyak cerita unik yang disampaikannya membuat kami tertawa dan semakin semangat untuk terus berbagi.

Miftahul Fanny

Nama kecilnya adalah fanny. Gadis Aceh yang sedikit banyak bercampur dengan batak membuatnya terkadang terlihat seperti orang Aceh atau orang medan. Ia adalah mahasiswi semester V jurusan Bimbingan Konseling, Unsyiah. Fanny adalah pengajar kelas satu, pengajar yang satu ini mudah akrab dan bersahabat dengan anak anak. Terkadang belajar menulis, berhitung dan terkadang bernyanyi. Pembelajarannya menarik dan membuat kita tersenyum melihat semangat pada anak anak didiknya. Semangatnya luar biasa



Surya Asra

Kami memanggilnya Bang Asra. Pengajar kelahiran Aceh Selatan ini adalah alumni FKIP Bahasa Inggris Unsyiah, disamping pengajar di kelas berbagi ia juga pengajar untuk sekolah masa depan di perkampungan pemulung. Abang ini pengajar untuk kelas bahasa inggris mulai kelas 4 sampai smp khusus buat anak anak laki – laki. Aktif dan mudah sekali akrab dengan adik adik membuatnya mudah untuk mentransfer ilmu, terkadang pelajaran bahasa inggris harus bercampur dengan bahasa Aceh. Hehe. Bersamanya membuat banyak suasana terus hidup. Ia memiliki latar belakang sebagai pengajar yang penuh dedikasi dan kreatif. Super Sekali.
Postingan ini khusus edisi pengajar, In Sha Allah edisi tim yang ada di belakang layar akan segera di posting. thanks buat semua melati pagar bangsa.

Rabu, 22 Oktober 2014

It’s The Climb

0 komentar

It’s The Climb
There’s always gonna be another mountain.
I’m always gonna wanna make it move.
Always gonna be an uphill battle
Sometimes you’re gonna have to lose.
Ain’t about how fast I get there.
Ain’t about what’s waitin on the other side.
It’s the climb

Lagu ini terus ku putar. Ku besarkan volume suaranya agar tidak kalah dengan suara angin kencang pagi ini. Derasnya hujan diluar rumah dan hembusan angin yang masuk disetiap celah kamar sedikit pun tidak mampu mengalihkan pendengaranku. Aku terus fokus ke arah handphone Nokia merah yang sedang berlagu. Setidaknya selain bisa menikmati irama musiknya, aku juga bisa menangkap kata dan gaya pronounciation-nya si Miley. Meski sedikit.

Aku terlena. Penggalan lirik lagu Miley Cyrus ini sungguh membakar semangat. Lagu ini terus ku putar sampai beberapa kalimat terhafal diluar kepala. Ah, ternyata tidak mudah ya mengumpulkan energi positif. Butuh waktu. Butuh katalisator agar energi positif itu bisa masuk ke dalam sel-sel darah dan menyelinap masuk ke saraf otak. Pagi ini kupakai cara mendengarkan musik barat. Yeah, It really works!

Benar kata Miley Cyrus di dalam lirik lagunya, It’s The Climb. Bahwa hidup ini seperti pendakian, suatu proses perjalanan menuju puncak. Tentu saja puncak ini hanya terlihat bagi mereka yang punya visi dalam hidup. Kalau kita tidak menjalani proses hidup ini, ya kita akan berjalan di tempat itu-itu saja. Aku merenung, dalam suatu pencapaian, terkadang aku cepat sekali putus asa dan berhenti ditengah jalan.

Hembusan angin menyambar wajahku…

Aku beralih fokus ke arah layar laptop. Ku buka folder-folder masa lalu yang berisi foto-foto masa SMA dan kuliah. Banyak sekali foto yang tersimpan di laptopku. Dulu aku terbiasa mengabadikan setiap event di kampus lewat foto. Jadi tak heran kalau semua foto dari semester 1 sampai 7 terpisah di masing-masing folder. Alhamdulillah, semua masih tersusun rapi. Mulai dari foto berkebun, foto saat eksplorasi di lab, bahkan sampai foto-foto selfie narsis bersama teman-teman kampus. Aku hanya mampu mengulum senyum saat melihat foto-foto itu. Sungguh, tak ada yang lebih indah selain senyum ceria orang-orang terdekat.

Lembaran Berdebu

Beberapa hari ini cuaca di Banda Aceh begitu labil. Angin kencang menyambar jendela kamarku yang tak bertirai. Aku masih disini, di kamar sederhana berukuran persegi sama sisi. Sejurus mataku kearah tumpukan kertas di bawah meja belajar. Karena terlihat tidak enak dipandang, aku pun merapikannya.

Permukaan tumpukan itu berdebu. Aku bersihkan satu persatu. Ternyata ada banyak buku paduan dan brosur belajar ke luar negeri di tumpukan itu. Huf. Huuf. Wah iya, ini memang kumpulan informasi beasiswa yang dulu aku kumpulkan!, aku berseru sendiri di dalam hati. Ada brosur Fulbright, AAS (Australia Awards Scholarship), Monbukagakusho dari JASSO (Japan Student Services Organization), ESIT (Elit Study In Taiwan), LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan), dan beberapa brosur universitas di Australia. Jangan tanya darimana brosur ini didapat. Yang aku ingat, ini semua aku dapatkan dari seminar pendidikan luar negeri dan dari perpustakaan mini tempat kursus TOEFL-ku. 

Brosur yang sempat berdebu
Aku terbiasa memisah buku-buku penting, buku yang sering di baca, novel bahkan tumpukan skripsi di kamarku. Jadi aku paham betul tumpukan informasi beasiswa itu memang sengaja aku pisahkan di bawah meja belajar. Karena meja belajarnya tidak ada kursi, jadi aku anggap meletakkannya di bawah meja lebih aman dan mudah di cari. Tapi seakan dimakan waktu, justru tumpukan kertas itu berdebu, tersembunyi, dan hampir lenyap di pelupuk mata. Lembar demi lembar kubuka perlahan. Membaca setiap persyaratan dan daftar jurusan yang sesuai dengan bidangku. Tapi rasanya kok beda ya? Rasanya seperti tidak ada yang tidak mungkin. Ah, ngayal! aku kan bertoga saja belum. Agak gamang jika harus membayangkan impian ke luar negeri lagi.

Have Faith!

Tiba-tiba aku jadi teringat kegiatan kemarin. Saat aku dan teman-teman yang lain berkumpul dan berbagi cerita bersama kak Fairuz, kakak inspirasiku. Karena dulu kami hanya berkomunikasi via message facebook, aku ingin sekali bisa berjumpa dan mengenal lebih banyak tentangnya. Tapi takdir siapa yang tahu. Akhirnya takdir mempertemukan kami di Gerakan Turun Tangan. Dari beliau lah aku pernah tertarik mengikuti YLI (Young Leader for Indonesia) dan sempat melirik PPAN (Pertukaran Pemuda Antar Negara).

Sore lalu, beliau bercerita bagaimana perjuangannya mendapatkan Beasiswa Aceh untuk melanjutkan sekolah di Massachusetts, US. Ternyata penuh liku dan pengorbanan. Banyak juga universitas yang menolaknya. Singkat cerita, karena ayah beliau -yang juga dosen dikampusku- dan orang-orang terdekat (termasuk pacarnya) selalu mendukung, akhirnya ia berhasil mendapatkan kesempatan ke Negeri Paman Sam beberapa bulan lagi.

Aku bersama Kak Fairuz
 Dalam penyampaiannya, kak Fairuz menekankan bahwa yang mengetahui arti kesuksesan sesungguhnya adalah kita sendiri, bukan orang lain. Bisa jadi kesuksesan orang lain bukanlah arti kesuksesan untuk diri kita.

Ah, pikiranku jadi melambung ke salah satu tokoh di Novel Rantau 1 Menara, Alif. Tentang kegigihannya menjalani hidup di jalannya sendiri. Karena usaha, kesabaran, akhirnya ia bisa mencapai cita-citanya, ke Amerika dan mendapatkan istri idaman. Ini juga persis seperi lagu Miley Cyrus tadi, “The struggles I’m facing. The chances I’m taking. Sometimes might knock me down but I’m not breaking. I may not know it but these are the moments that I’m gonna remember most. I just gotta keep going and I just gotta be strong. Just keep pushing on”. Kena banget!

Semua perjalanan itu punya tujuan, punya puncak, punya muara. Tapi masalahnya bisakah kita tetap keep faith? Aku kembali mengingat orang-orang terdekatku yang sudah dan akan berangkat ke luar negeri. Kalau ditanya tentang perjuangan, tentu mereka berjuang. Mereka juga pasti banyak berusaha, banyak bersabar dan fokus pada tujuan. Mereka berusaha menjadi Outstanding Person, going the extra miles!, kata Alif.

Melihat orang terdekat kita bisa menggapai apa yang dicita-citakannya, apa aku tidak punya kesempatan? Mungkin selama ini aku masuk ke dalam unlimited room sehingga tidak berlapang dada. Mungkin juga aku hanya panas sehari-dua hari kemudian dingin lagi selama sebulan. Wajar dong kalau jalanku selama ini tersendat dan tidak jelas?

Tapi benar jurus hidup “Man Saara ala darbi Washala“. Siapa yang berjalan di jalannya akan sampai ke tujuan. Aku harus kukuh dan harus tahu kemana tujuan akhir. Dan aku tidak sendiri. Ada Tuhan yang menjadi tempatku bertumpu. Ini bukan seberapa cepat aku sampai pada puncak atau muara, bukan seberapa besar yang ada di ujung jalan. Tapi seberapa besar rintangan yang mampu aku lalui dan seberapa jauh aku berjalan. It’s the climb. I just gotta keep going.

Coretan pagi ini
Dan aku harusnya menyadari bahwa going abroad bukanlah satu-satunya cara untuk belajar. Aku bisa belajar oleh siapa saja, dimana saja dan kapan saja. 

Ah, sepertinya aku terlalu lama termenung di kamar ini. Hembusan angin semakin kencang, dan jendela kamar harus segera ditutup sebelum semua kertas di kamarku ini terbang seperti daun kering jatuh berserakan.  Semoga purnama malam nanti menjadi saksi bahwa mulai hari ini aku berikrar untuk selalu menjagai impian di dalam hati terdalam.

Turun Tangan, Bukan Lipat Tangan!

0 komentar


Di hari minggu pagi, Blang padang tetap ramai seperti biasanya. Banyak masyarakat dari berbagai kalangan yang datang untuk berolahraga, berkumpul dengan sahabat dan komunitasnya. Ada juga yang bahkan ke blang padang hanya sekedar menyicipi kuliner. Terlihat  begitu ramai masyarakat disana. Masing-masing dari mereka mempunyai aktivitas sendiri.

Pagi pukul 08.00, sekelompok pemuda pemudi terlihat sedang sibuk mengutip sampah yang berserakan direrumputan maupun di sekitaran lokasi kuliner Blang Padang. Ada tulisan “Turun Tangan” dikaos mereka. Ada juga kaos yang bertuliskan “Aku Relawan, Bukan Bayaran”, “Relawan Rp.0” dan sebagainya. Mereka berkeliling lapangan sambil membawa kantong plastik merah besar yang berisi banyak sampah kering. Lalu kantong plastik berisi sampah itu mereka dibuang ke konteiner sampah yang ada di sudut lapangan.


Ya, saya tergabung kedalam salah satu dari mereka. Saya dan teman-teman adalah relawan Turun Tangan. Berdasarkan agenda yang sudah ada, pagi Minggu adalah jadwal kami mengutip sampah-sampah yang dibuang sembarangan di Blang Padang. Niat sih memang murni bersih-bersih lingkungan. Sambil menyelam minum air. Sambil mengutip sampah saya juga bisa kenalan dengan orang baru di blang padang. #eh

Setelah bersih-bersih, para relawan pun menuju Black Jack, salah satu warkop terdekat dari Blang Padang. Saya bersama teman-teman mengadakan diskusi dengan para orang tua dari komunitas Awak Awai. Komunitas Awak Awai adalah komunitas penggemar sepeda ontel. Visi misi komunitas ini bertujuan untuk berolahraga, rekreasi dan silahturahmi. Kami saling bertukar pendapat tentang politik, komunikasi, Anis Baswedan, dan Turun Tangan.

Diskusi berjalan sangat asik diselangi canda dan tawa. Di diskusi ini kami bukan mempromosikan habis-habisan bahwa Anies Baswedan harus bisa menjadi Capres nantinya, tapi kami sekedar bersilahturahmi. Pada akhir diskusi diambil kesimpulan bahwa komunitas Relawan Turun Tangan dan Komunitas Ontel Awak Awai saling mendukung dalam hal sosial. Bukan politik. Mereka juga mewanti-wanti bahwa jika Anies orang baik, maka ia harus baik juga pada masa kepemimpinannya. Terlebih lagi jika sudah menceburkan diri di dunia politik yang terlanjur berlabelkan kotor.




Bagi kamu yang belum tau apa itu komunitas relawan Turun Tangan, komunitas ini adalah komunitasnya para relawan yang bergerak turun tangan secara langsung dan berusaha menggerakkan orang lain dalam kegiatan sosial, pendidikan maupun lingkungan. Prinsip dari komunitas ini adalah suatu perubahan tidak akan terjadi jika banyak orang yang urun tangan pada suatu permasalahan. Turun tangan, sekaligus arti dari namanya mengajak orang lain agar bisa terlibat dan ikut campur (dalam hal baik). Sebagian orang akan menganggap Turun Tangan adalah kampanye dari Anies Baswedan. Tapi kampanye ini dipastikan lebih baik dari pada harus mengeluarkan kocek yang mahal karena spanduk, baliho. Apa lagi bagi-bagi uang yang terkesan boros dibumbui janji-janji manis.

Kenapa saya sampai bisa menjadi relawan? Jawabannya karena “penasaran”. Haha. Iya benar, penasaran. Ada salah seorang senior saya dikampus pernah berulang kali ingin bertemu dengan saya. Katanya ia mau membicarakan sesuatu dan ingin mengajak saya untuk bergabung dikomunitasnya, komunitas Turun Tangan namanya. Pada waktu itu saya menolak tawarannya karena saya harus punya persiapan baik untuk berangkat ke Nagan Raya dalam rangka KKP (Kuliah Kerja Praktik) di PT. Fajar Baizury and Brothers. Nah, setelah sebulan pulang dari KKP, senior saya ini tetap keukeuh mengajak saya ikut bergabung. Saya pun akhirnya luluh. Untuk pertama kali saya duduk bersama relawan Turun Tangan lainnya. Kami berdiskusi untuk membicarakan agenda yang akan dilaksanakan dalam waktu dekat.

Sedikit gambaran tentang Turun tangan, Turun Tangan sebenarnya adalah komunitas yang di anisiasi oleh Anies Baswedan. Turun Tangan adalah komunitas penggerak agar pemuda pemudi cepat tanggap pada suatu permasalahan. Bukan lipat tangan dan tidak tahu menahu dengan apa yang terjadi.

Sebagai peserta konvensi calon presiden Partai Demokrat, Anis Baswedan ingin menjadi salah satu capres pada pemilu 2014 mendatang. Anies Baswedan ingin sekali mengubah habit orang Indonesia untuk bisa ikut turun tangan bukan hanya diam dan mendiamkan. Jadi, relawan yang masuk ke komunitas Turun Tangan adalah pendukung Anies Baswedan, namun tidak menutup kemunkinan jika ada salah satu relawan yang berbeda pilihannya. Anies sendiri tidak mempermasalahkan siapa pun yang menjadi pemimpin untuk Indonesia nanti. Yang penting siapapun yang menjadi pemimpin nanti adalah orang baik dan baik juga pada masa kepemimpinanannya.



Sabtu (8/3/2014) yang lalu, saya dan beberapa relawan Turun Tangan lainnya juga melakukan aksi langsung seperti membagikan brosur, VCD, koran Turun Tangan, Stiker dan Kalender Turun Tangan di Simpang 5 Banda Aceh. Wah, ini adalah pengalaman saya pertama kalinya turun dijalan raya pada saat lampu merah! Jantung saya berdegup kencang. Bayangkan, untuk menyebrang ke jalan raya saja saya sudah ngeri, apalagi saya harus berlama-lama selama lampu merah menyala. Sekali-kali saya melihat lampu lalu lintas apakah sudah hijau atau belum. Saya khawatir kendaraan mulai membunyikan klakson sedangkan saya masih berleha-leha di lampu merah. Huft. Saya benar-benar panik!
Tapi moment membagikan brosur, VCD dan sebagainya di lampu merah ternyata memberikan arti bagi saya. Teriknya sinar matahari pada saat itu sudah tidak lagi terasa karena saya benar-benar enjoy dengan kegiatan tersebut. Saya tidak sendiri pada saat aksi. Banyak juga teman saya yang perempuan dan laki-laki membagikan brosur. Kami tersebar di titik simpang yang berbeda.

Setelah aksi di simpang 5, kami pun beristirahat di dekat Taman Makam Pahlawan. Nikmat rasanya ketika minuman dingin melewati tenggorakan saya yang kering. Sialnya akibat bandel, minuman dingin tersebut malah membuat saya belum fit total sampai sekarang. Batuk dan pilek seakan menggangu.




 Pukul 12 kami para relawan menuju MIN Masjid Raya untuk mengajarkan ibu-ibu guru disana belajar komputer. Sesampai disana, kami disambut hangat oleh para dewan guru. Mas rimba, sebagai koordinator Turun Tangan Aceh menjadi pemandu untuk pelatihan komputer. Para guru diajarkan tentang bagaimana membuat slide presentasi melalui Microsoft Power Point. Memang, masih banyak diantar guru MIN Masjid Raya yang belum akrab dengan laptop mereka sendiri. Masih banyak guru yang belum mengerti bagaimana menggunakan Power Point. Kami pun mengajari mereka dengan ikhlas dan sabar. Bukankah lebih baik Turun Tangan daripada hanya sekedar membiarkan, bukan?


Hanya dalam hitungan 2 hari mengikuti kegiatan Turun Tangan, saya merasakan “aura” yang berbeda. Saya memang tidak terlalu mengerti dan mengenal dunia politik lebih dalam. Tapi rasanya sangat miris jika saya menutup mata, telinga dan pikiran tentang politik. Bagi saya, warga negara yang baik adalah mereka yang mengerti tentang permasalahan negara mereka sendiri dan turun tangan untuk menyelesaikannya.

Persis seperti yang dikatakan Pak Anies Baswedan dalam pidatonya, “Kita harus memuculkan kepemimpinan yang bisa mengajak  semua orang untuk turun tangan, terlibat dan melunasi bersama janji kemerdekaan. Indonesia ini adalah Indonesia kita semua, milik kita bersama. Mari kita miliki masalah yang ada di negeri ini, lalu kita turun tangan ramai-ramai menyelesaikan masalah yang ada”.

Namun, sadar atau tidak Turun Tangan tetap merupakan gerakan politik karena ada di belakang sosok yang sedang berkompetisi di dunia politik. Tapi, saya rasa gerakan politik Anies Baswedan berbeda. Anies mengajak kita untuk berkomunikasi politik gaya baru, yang hemat, ramah, dan tepat sasaran.
Siapapun kamu dan mereka, tetaplah memilih hal yang baik-baik. termasuk memilih calon pemimpin yang baik. Sebelum dipimpin nantinya, pastikan kita sendiri bisa memimpin diri sendiri.  Apa yang bisa kita lakukan? Ya turun tangan rame-rame!

Oya, Anies Baswedan and team akan datang ke Aceh beberapa hari yang akan datang. Relawan turun tangan Aceh siap menyambut! Turun Tangan Aceh akan terus melakukan aksi yang menginspirasi :)
Oleh Keumala Fadhiela